Selasa, 23 September 2014



Islam adalah agama yang mengagungkan kebenaran. Tolok ukur kebenaran dalam Islam yaitu bersumber dari wahyu Allah Ta’ala, baik dalam al-Qur’an maupun al-Sunnah. Islam juga mengagungkan ilmu dan mengharamkan berkata tanpa dasar ilmu yang benar.
Allah Ta’ala berfirman dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 147:
﴿ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ 
Kebenaran itu adalah dari Rabb-mu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.
Diantara cara berfikir yang menyimpang dari kebenaran adalah percaya kepada khurafat dan mitos. Yang dimaksud dengan mitos adalah cerita-cerita bohong tentang suatu hal seperti asal usul tempat, alam, manusia dan sebagainya yang mengandung arti mendalam dan diungkapkan dengan cara gaib. Sedangkan definisi khurafat adalah ajaran atau keyakinan yang tidak mempunyai landasan kebenaran, disebut pula takhayul.
Percaya dan bersandar pada khurafat dan mitos (cerita-cerita bohong) adalah salah satu cara berfikir dan berdalil orang-orang musryik. Mereka tidak menggunakan akal dan hati mereka untuk mencari dan mengamalkan kebenaran. Dan itu merupakan sebab mereka dimasukan ke dalam Neraka.
Allah Ta’ala berfirman dalam al-Qur’an surat al-Mulk ayat 10:
﴿ وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ 
Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni Neraka yang menyala-nyala.”
Khurafat dan mitos merupakan salah satu sebab disembahnya patung-patung, batu, benda-benda keramat dan sesembahan lainnya selain Allah Ta’ala. Di Indonesia khususnya, banyak khurafat dan mitos yang hingga saat ini dipercaya sebagai sebuah kebenaran secara turun temurun. Bahkan bukan hanya dipercaya tapi kepercayaan itu direalisasaikan dalam bentuk ritual-ritual tertentu yang mengandung unsur kesyirikan.
Salah satu contoh mitos yang hingga saat ini masih diyakini adalah mitos tentang Candi Prambanan, asal usul gunung Tangkuban Perahu, asal usul Danau Toba dan beberapa tempat lainnya. Berkaitan dengan mitos candi prambanan, diyakini bahwa candi ini dibuat Bondowoso sebagai syarat untuk menikahi Roro Jonggrang yang meminta seribu candi dalam semalam. Kemudian Bondowoso mengutuk Roro Jonggrang menjadi candi pelengkap keseribu karena menghianti janji. Muncul khurafat dan mitos bahwa pasangan yang datang ke tempat tersebut secara bersama akan terputus hubungannya. Tempat lain yang memiliki khurafat putus hubungan semisalnya adalah Kebon Raya Bogor, Baturaden di Kabupaten Banyumas, dan Air terjun Coban Rondo di Malang.
Indonesia adalah negara dengan kekayaan budaya yang berlimpah. Nilai budaya yang kian lama tergerus oleh modernisasi, memang harus terus dijaga kelestariannya. Namun, beberapa aktivitas budaya terkadang bertentangan dengan agama. Salah satunya adalah budaya yang berakar kepada suatu legenda tentang penguasa laut Selatan, yaitu Nyi Roro Kidul. Legenda Ratu Laut Selatan ini berawal dari kelahiran seorang anak perempuan bernama Lara Kaditaputri dari Prabu SiliwangiPrabu Siliwangi adalah seorang raja yang terkenal dan bijaksana.

Kehadiran putri Lara Kadita yang kelak akan menjadi pewaris tahta kerajaan tidak disukai para selir raja, apalagi sang putri tumbuh menjadi seorang wanita yang cantik jelita. Hal tersebut membuat kebencian para selir raja semakin besar kepadanya. Para selir raja membuat permainan dengan menggunakan ilmu hitam yang membuat permaisuri dan putri Lara Kadita memiliki penyakit kulit yang sangat parah dan berbau busuk. Karena penyakit kulit yang diderita keduanya, mereka diusir oleh raja dengan alasan takut penyakitnya menjadi wabah di kerajaan. Kemudian, mereka keluar dari kerajaan, lalu mengembara untuk bertahan hidup.

Dalam pengembaraan, permaisuri yang terlalu lelah melalui medan yang berat, akhirnya meninggal dunia. Ditinggal sang bunda, Putri Lara Kadita yang sedih terus berjalan hingga berhenti pada suatu karang dan akhirnya tertidur karena kelelahan. Dalam tidurnya, sang Putri bermimpi kecantikannya akan kembali seperti semula jika sang Putri melompat dan menenggelamkan diri di laut. Akhirnya, kecantikan Putri kembali dan menjadi Ratu Laut Selatan, yang kita kenal dengan Nyi Roro Kidul.

Sebuah legenda biasanya berasal dari cerita rakyat yang berkembang dan terus diceritakan. Pada legenda Nyi Roro Kidul, bisa jadi sebagian masyarakat bertemu sosok magis yang digambarkan perempuan cantik berpakaian serba hijau. Hingga kini, masih banyak yang mempercayai sosok mistik tersebut. Masyarakat terus melaksanakan ritual guna menghormati Penguasa Laut Selatan tersebut. Salah satu ritualnya adalah Larung Sesaji, yakni ritual yang diadakan setiap tahunnya oleh masyarakat Jawa.

Ritual sedekah laut (Larung Sesaji) dilaksanakan sebagai wujud syukur kepada Tuhan dan penguasa Laut Selatan, agar nelayan terhindar dari musibah di laut dan memperoleh lebih banyak hasil ketika melaut. Tidak hanya nelayan dan masyarakat sekitar yang melakukan ritual itu, sebuah kamar di hotel ternama dipersembahkan untuk Nyi Roro Kidul. Kamar yang bernuansa hijau tersebut dibersihkan dan dirawat setiap hari. Tak lupa juga pemberian suguhan kepada sang Penguasa Laut Selatan. Kamar tersebut menjadi tujuan bagi orang-orang yang ingin bersemedi kepada Nyi Roro Kidul.

Perlakuan masyarakat akan legenda ini menjadi bukti kemenangan iblis dalam merusak akidah manusia. Iblis menyerupai bentuk yang dikenal manusia dan melakukan tipu dayanya agar manusia menuju kekufuran. Bisa jadi iblis ada andil menciptakan legenda Nyi Roro Kidul. Memberikan kesan sang Putri adalah sosok yang baik dan teraniaya, namun karena kesabarannya, Nyi Roro Kidul mendapatkan kekuatan yang seakan bisa menolong manusia.

Yang lebih parahnya lagi, kekufuran ini terus berlangsung hingga kini. Iblis pun tertawa puas melihat manusia terperdaya dalam rayuannya.

Astaghfirullaah ... !!!

Semua perbuatan ini jelas adalah perbuatan syirik yang menyekutukan Allah SWT. Meminta pertolongan kepada selain Allah SWT. atau pun mengagungkan sesuatu hal selain Allah SWT. akan mengantarkan manusia menjadi budak iblis. Mirisnya, yang melakukan semua itu kebanyakan adalah pemeluk agama Islam.
Adapun contoh khurafat lainnya terkait dengan jodoh adalah jangan makan depan pintu nanti jodohnya jauh, jangan makan di tempat tidur nanti jodohnya pemalas, jangan makan menggunakan dua piring nanti istrinya dua, dan jangan nyapu setengah-tengah nanti jodohnya jelek.
Di Indonesia juga memiliki banyak khurafat dan mitos hantu. Banyak nama-nama hantu yang dipercaya sampai saat ini yang masih dipercaya adalah hantu kuntilanak, Sundel Bolong, Tuyul, Pocong, Genderuwo, Wewe gombel dan nama hantu lainnya. Contoh mitos hantu-hantu tersebut adalah Tuyul yaitu dipercaya sebagai makhluk halus yang digambarkan berwujud anak kecil dengan kepala gundul dan berjiwa kerdil, Tuyul dapat diperkerjakan dengan pekerjaan tertentu dan biasanya untuk mencuri uang. Untuk menangkal tuyul, orang memasang yuyu di sejumlah sudut rumah karena tuyul dipercaya menyukai yuyu sehingga ia lupa akan tugas yang dibebankan pemiliknya.
Khufarat dan mitos lain adalah terkait dengan binatang yang dipercaya memiliki kaitan dengan mistis yaitu kucing hitam, burung hantu, anjing hitam, ayam hitam, dan hewan lainnya. Contoh yang terkait dengan kucing hitam, yaitu dipercaya memiliki mistis, dan ada juga yang percaya bahwa keberadaan kucing hitam menunjukan adanya penampakan hantu atau sekedar lewat, juga dipercaya keberadaannya menandakan malapetaka. Sedangkan mitos burung hantu adalah dipercaya sebagai sahabat setan, suaranya dimaknai sebagai tanda datangnya kematian serta berbagai malapetaka lainnya.
Contoh khurafat dan mitos lain adalah terkait tempat-tempat yang dianggap keramat adalah Lawang Sewu Semarang, Alas Purwo, Gunung Merapi dan Alas Roban serta tempat lainnya. Tempat-tempat tersebut dipercaya memiliki keramat dan keangkeran. Sebagai contoh, misalnya pantai selatan yang dianggap angker dan dipercaya banyak dihuni bangsa jin yang dipimpin oleh Ratu Kidul, sehingga ungkapan rasa syukur dan memohon perlindungan dilakukan dengan cara nadranan semacam ruwayatan, mengirim sesajen, sembelihan lalu dikirim ke laut.
Itulah beberapa contoh mitos-mitos yang tersebar di masyarakat. Dan masih banyak mitos lainnya yang sampai saat ini masih diyakini oleh masyarakat yang jahil akan akidah Islam.
Keyakinan pada khurafat dan mitos ini pada hakehatnya adalah pemikiran masyarakat musyrik jahiliyyah. Meraka bersandar kepada khurafat dan mitos sehingga akal sehat mereka rusak dan begitupula teori keilmuan mereka. Sehingga akidah dan muamalah mereka sesat dan menyesatkan karena tidak berlandaskan pada wahyu Allah Ta’ala melainkan pada khurafat dan mitos yaitu cerita-cerita bohong.
Secara umum, penyimpangan utama khurafat dan mitos terletak pada penisbatan terjadinya sesuatu diantaranya musibah, kemudahatan dan kemanfaatan kepada selain Allah Ta’ala, baik tempat, benda, binatang, manusia, dan bangsa jin ataupun yang lainnya. Dan ini bertentangan dengan prinsip dasar Islam, bahwa Allah-lah yang Maha Kuasa dalam menimpakan kemudarahatan dan memberikan kemanfaatan kepada makhluk-makhluk-Nya.
Allah Ta’ala berfirman dalam al-Qur’an surat al-Thagabun ayat 11:
﴿ مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ 
Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Allah Ta’ala berfirman dalam al-Qur’an surat al-Hadid ayat 22:
﴿ مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ 
Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
Selain menyelisihi penisbatan kejadian alam semesta kepada selain Allah Ta’ala. Kepercayaan terhadap khurafat dan mitos yang direalisasikan dalam bentuk ritual tertentu baik sesajen, ruwatan, dan yang lainnya untuk memohon kebaikan dan meminta perlindungan telah menyimpang dari prinsip dasar Islam yang mengajarkan tauhid yaitu berdo’a, memohon kebaikan dan berlindung dari keburukan hanya kepada Allah Ta’ala semata. Karena hanya Dia-lah yang mampu mendatangkan manfaat dan mudharat.
Allah Ta’ala berfirman dalam al-Qur’an surat Yunus ayat 106:
﴿ وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ 
Dan janganlah kamu beribadah kepada yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim.
Allah Ta’ala berfirman dalam al-Qur’an surat al-Ahqaf ayat 5-6:
﴿ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَوَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ
Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang beribadah kepadasembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa) nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka? Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka.
Allah Ta’ala berfirman dalam al-Qur’an surat Fatir ayat 13:
﴿ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ 
Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.
Penyelisihan lain dari kepercayaan terhadap khurafat dan mitos adalah keyakinan tanpa dasar ilmu. Padahal Islam adalah agama ilmu. Allah Ta’ala menurunkan al-Qur’an dan al-Sunnah sebagai sumber utama ilmu dalam meniti kehidupan ini dan sebagai hidayah bagi manusia.
Allah Ta’ala berfirman dalam al-Qur’an surat al-Isra ayat 36:
﴿ وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا 
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.
Tapi justru memang sebaliknya, orang-orang musyrik yang percaya kepada khurafat dan mitos menuduh wahyu Allah Ta’ala sebagi mitos (cerita-cerita dusta) belaka. Dan inilah salah satu sebab kekufuran mereka.
Allah Ta’ala berfirman dalam al-Qur’an surat al-Qalam ayat 15 dan al-Muthafifin ayat 13:
﴿ إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ آيَاتُنَا قَالَ أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ 
Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: “(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala.”
Allah Ta’ala berfirman dalam al-Qur’an surat al-Nahl ayat 24:
﴿ وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ مَاذَا أَنْزَلَ رَبُّكُمْ قَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ 
Dan apabila dikatakan kepada mereka “Apakah yang telah diturunkan Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Dongeng-dongengan orang-orang dahulu”
Lebih spesifik lagi, penyimpangan mitos dan khurafat banyak terkait dengan tauhid rububiyyah dan uluhiyyah. Dalam tauhid rububiyyah, ummat Islam harus meyakini bahwa Allah Ta’ala adalah satu-satunya Rabbul-Alamin, Pencipta, Penguasa dan Pengatur alam semesta. Segala yang terjadi pada alam semesta ini adalah atas kehendak dan kekuasaan Allah Ta’ala. Karena Allah Ta’ala sebagai Rabb alam semesta maka peribadatan harus diperuntukan hanya kepada-Nya semata termasuk berdo’a, meminta pertolongan, meminta perlindungan, takut, harap dan lain-lain dan inilah yang disebut dengan tauhid uluhiyyah.
Allah Ta’ala berfirman dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 21:
﴿ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ 
Hai manusia, beribadahlah kepada Rabb kalian yang telah menciptakankalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.”
Ayat yang mulia ini menjelaskan bahwa manusia diperintahkan untuk memurnikan peribadatan kepada Allah Ta’ala karena Dia satu-satunya Rabb yaitu Pencipta manusia seluruhnya. Jadi pengakuan rububiyah Allah Ta’ala mewajibkan pengamalan tauhid uluhiyyah.
Dengan demikian, dapatlah kita pahami bahwa khurafat dan mitos banyak menyimpang dari prinsip-prinsip dasar Islam. Maka hukum percaya kepada khurafat dan mitos adalah syirik. Adapun klasisikasi syirik akbar atau syirik ashgar tergantung pada jenis khurafat dan mitos serta pengamalan dari kepercayaan tersebut.
Salah satu contoh khurafat yang dikategorikan syirik ashgar adalah: Jangan makan di pintu nanti jodohnya balik lagi, jangan duduk di atas bantal nanti bisulan, atau yang semisalnya. Yaitu perkataan yang dimaksud sebagai nasehat yang baik yang tidak menyelisihi hukum Islam atau tauhid akantetapi diungkapkan dengan kata-kata yang salah dan kata-kata tersebut tidak diyakini kebenarannya, hanya sekedar untuk menakut-nakuti saja. Dan khurafat ini tidak sampai kepada kesyirikan akbar. Allahu a’lam
Adapun salah satu contoh khurafat dan mitos yang dikategorikan syirik akbar seperti keyakinan akan keberadaan Nyi Rodo Kidul sebagai penguasa pantai selatan, meyakini dialah yang menguasai pantai tersebut atau bahkan sampai melakukan ritual nadranan (ruwatan) meminta manfaat dan tolak bala kepada Nyi Roro Kidul. Khurafat dan mitos ini adalah syirik akbar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Dan termasuk kategori ini jika sudah masuk pada ranah merampah rububiyyah dan uluhiyyah Allah serta menisbatkannya kepada selain Allah. Allahu a’lam
Banyak dampak yang ditimbulkan dari kepercayaan kepada khurafat dan mitos, yaitu: mendatangi tukang sihir dan dukun, pengagungan terhadap Jin dan Setan dan terpengaruh ramalan-ramalan buruk. Dan juga ritual-ritual kesyirikan yang dianggap sebagai penolak bala dan manfaat lainnya seperti ritual sesajen, ruwatan (nadranan), sedekah bumi, kurban untuk makhluk ghaib dan ritual syirik yang lainnya.
Dari pemaparan perihal mitos dan khurafat, maka perlu dipahami bahwa Islam adalah agama tauhid dan melarang semua bentuk kesyirikan. Pemalingan hak rububiyyah, uluhiyyah dan asma wa sifat kepada selain Allah adalah bentuk kesyirikan yang diharamkan dalam Islam.

Sabtu, 19 April 2014

Hukum Mempercayai Horoskop/Zodiak



Horoskop dan Astrologi ialah ilmu yang digunakan bagi mencari maklumat serta ramalan terhadap perkara ghaib dari bintang-bintang serta bulan-bulan kelahiran seseorang manusia. Seringkali kita lihat horoskop seperti ini banyak dipaparkan di dalam majalah dan media massa terutamanya yang disasarkan kepada golongan remaja.

Ramalan Horoskop (Horoscope) DIPERCAYAI KONONNYA yang dapat menentukan ramalan personaliti seseorang, sifat peribadi dan ramalan nasib bulan-bulan dalam kehidupannya.

Ramalan sebegini membawa kepada syirik dan hukum mempercayainya ialah haram dan berdosa. Telah diriwayatkan oleh Abdullah ibn Abbas ra Rasulullah s.a.w. telah bersabda :

Barang siapa yang mengambil sebahagian dari ilmu bintang (nujum) maka sesungguhnya dia telah mengambil sebahagian dari ilmu sihir yang setiap kali bertambah ilmu bintangnya (berkaitan ramalan) maka bertambah pulalah ilmu sihirnya . (hadith sahih diriwayatkan oleh Abu Daud, Nasaie dan Ahmad).

SHOLAT mereka yang membaca ramalan bintang sama ada di akhbar, majalah atau di internet tidak akan diterima Allah selama 40 hari, tidak kira mereka percaya atau sebaliknya kerana perbuatan itu sama seperti berjumpa dengan tukang ramal.

Berdasarkan ulasan ulama terkenal Yusuf al-Qardawi mengenai hukum membaca ramalan bintang :

Katanya, walau seseorang itu tidak membenarkan apa yang dibaca, solatnya tetap tidak diterima selama 40 hari dan jika membaca serta membenarkan pula ramalan itu, maka orang itu dikatakan kufur kepada ajaran Muhammad.

Bagaimanapun katanya, jika membaca dengan tujuan untuk membantah, menjelaskan dan mengingkari amalan syirik, hukumnya dituntut malah menjadi wajib kerana tujuan memberi pengajaran kepada orang lain.

Telah jelas hukum sihir bahwa  haram menurut kesepakatan ulama dan membawa kepada kufur serta terbatal iman. Maka di dalam masalah ilmu horoskop ini hendaklah para pemuda-pemudi Islam berhati-hati dan tidak mempercayai apa-apa dari ramalan bintang-bintang ini yang jauh dari kebenaran dan dipenuhi kedustaan dan penipuan sekalipun terdapat kepadanya beberapa berita yang mendekati kebenaran.

Imam Bukhari ra telah meriwayatkan di dalam kitab sahihnya bahawa Qatadah, seorang ulama tabien yang terkenal telah berkata : Allah telah menciptakan bintang-bintang untuk tiga perkara iaitu perhiasan langit, pelempar syaitan dan sebagai tanda-tanda penunjuk arah maka barangsiapa yang mentafsirkan bintang-bintang selain dari tiga perkara ini maka ianya adalah salah dan sia-sia iaitu mensia-siakan nasibnya serta memaksa dirinya dengan sesuatu yang dia tidak mempunyai ilmu untuk mengetahuinya.

Mempelajari ilmu bintang seperti ilmu falaq, ilmu kaji bumi dan astrologi untuk tujuan kebaikan bagi mendapat maklumat yang berguna bagi keselamatan manusia dan faedah kepada manusia dari sudut ilmu pengetahuan yang membawa manfaat tidaklah salah. Tetapi mempelajari ilmu astrologi untuk tujuan horoskop dan meramal nasib maka hukumnya ialah haram dan berdosa.


Jumat, 28 Februari 2014

About Sidratul Muntaha






Sidrat al-Muntahā (bahasa Arabسدرة المنتهى‎ , Sidratul Muntaha) adalah sebuah pohon bidara yang menandai akhir dari langit/Surga ke tujuh, sebuah batas dimana makhluk tidak dapat melewatinya, menurut kepercayaan Islam. Dalam kepercayaan ajaran lain ada pula semacam kisah tentang Sidrat al-Muntahā, yang disebut sebagai "Pohon Kehidupan".
Pada tanggal 27 Rajab selama Isra Mi'raj, hanya Muhammad yang bisa memasuki Sidrat al-Muntaha dan dalam perjalanan tersebut, Muhammad ditemani oleh Malaikat Jibril, dimana Allah memberikan perintah untuk Salat 5 waktu.


idrat al-Muntahā berasal dari kata sidrah dan muntahaSidrah adalah pohon Bidara, sedangkan muntaha berarti tempat berkesudahan, sebagaimana kata ini dipakai dalam ayat berikut:
Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna, dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu). (An-Najm, 53:41-42)
Dengan demikian, secara bahasa Sidratul Muntaha berarti pohon Bidara tempat berkesudahan. Disebut demikian karena tempat ini tidak bisa dilewati lebih jauh lagi oleh manusia dan merupakan tempat diputuskannya segala urusan yang naik dari dunia di bawahnya maupun segala perkara yang turun dari atasnya. Istilah ini disebutkan sekali dalam Al-Qur'an,


Sidratul Muntaha digambarkan sebagai Pohon Bidara yang sangat besar, tumbuh mulai Langit Keenam hingga Langit Ketujuh. Dedaunannya sebesar telinga gajah dan buah-buahannya seperti bejana batu.[1]
Menurut Kitab As-SulukSidrat al-Muntahā adalah sebuah pohon yang terdapat di bawah 'Arsy, pohon tersebut memiliki daun yang sama banyaknya dengan sejumlah makhluk ciptaan Allah.[2]
Allah berfirman dalam surah An-Najm 16,
Ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya (an-Najm, 53: 16)
Dikatakan bahwa yang menyelimutinya adalah permadani yang terbuat dari emas.
Jika Allah memutuskan sesuatu, maka "bersemilah" Sidratul Muntaha sehingga diliputi oleh sesuatu, yang menurut penafsiran Ibnu Mas'ud radhiyallahu anhu adalah "permadani emas". Deskripsi tentang Sidratul Muntaha dalam hadits-hadits tentang Isra Mi'raj tersebut menurut sebagian ulama hanyalah berupa gambaran (metafora) sebatas yang dapat diungkapkan kata-kata.


Ketika Mi'raj, di sini Muhammad melihat banyak hal, seperti:


Melihat bentuk asli Malaikat Jibril

Dikatakan bahwa Muhammad telah melihat wujud asli dari Malaikat Jibril yang memiliki sayap sebanyak 600 sayap.
...dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (An-Najm 53:13)

Melihat cahaya Tuhan

Dikatakan pula bahwa Muhammad telah melihat Allah yang berupa cahaya atau hanya tertutup dengan cahaya.
Untuk hal ini terdapat beda pendapat di kalangan ulama, apakah Nabi Muhammad pernah melihat Tuhannya? Jika pernah apakah beliau melihat-Nya dengan mata kepala atau mata hati? Masing-masing memiliki argumennya sendiri-sendiri. Di antara yang berpendapat bahwa beliau pernah melihat-Nya dengan mata hati antara lain al-Baihaqi, al-Hafizh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya, dan Syaikh al-Albani dalamtahqiqnya terhadap Syarah Aqidah ath-Thahawiyah. Salah satu argumentasi mereka adalah hadits yang telah dikutip di atas. Jadi menurut riwayat yang shahih adalah Nabi Muhammad lihat hanyalah cahaya yang menghalangi antara dirinya dengan Allah.

Mendapatkan Perintah Salat

Di Sidratul Muntaha ini Nabi Muhammad mendapatkan perintah salat 5 waktu. Perintah melaksanakan salat tersebut pada awalnya adalah 50 kali setiap harinya, akan tetapi karena pertimbangan dan saran Nabi Musa serta permohonan Nabi Muhammad sendiri, serta kasih dan sayang Allah, jumlahnya menjadi hanya 5 kali saja. Di antara hadits mengenai hal ini diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dan Ibnu Mas'ud.
Dari Abdullah (bin Mas'ud), ia telah berkata: "Ketika Rasulullah diisrakan, beliau berakhir di Sidratul Muntaha (yang bermula) di langit keenam. Ke sanalah berakhir apa-apa yang naik dari bumi, lalu diputuskan di sana. Dan ke sana berakhir apa-apa yang turun dari atasnya, lalu diputuskan di sana."
Ia berkata: "Kemudian Rasulullah diberi tiga hal: Diberi salat lima waktu dan diberi penutup Surah al-Baqarah serta diampuni dosa-dosa besar bagi siapapun dari umatnya yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun".

Peristiwa Isra dan Mikraj nabi besar Muhammad SAW




Isra Mikraj (bahasa Arabالإسراء والمعراجal-’Isrā’ wal-Mi‘rāj) adalah bagian kedua dari perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallamdalam waktu satu malam saja. Kejadian ini merupakan salah satu peristiwa penting bagi umat Islam, karena pada peristiwa inilah beliau mendapat perintah untuk menunaikan salat lima waktu sehari semalam.
Sebelum Israk dan Mikraj

Sebelum Israk dan Mikraj Rasulullah S. A. W. mengalami pembedahan dada / perut, dilakukan oleh malaikat Jibrail dan Mika’il. Hati Baginda S. A. W.. dicuci dengan air zamzam, dibuang ketul hitam (‘alaqah) iaitu tempat syaitan membisikkan waswasnya. Kemudian dituangkan hikmat, ilmu, dan iman. ke dalam dada Rasulullah S. A. W. Setelah itu, dadanya dijahit dan dimeterikan dengan “khatimin nubuwwah”. Selesai pembedahan, didatangkan binatang bernama Buraq untuk ditunggangi oleh Rasulullah dalam perjalanan luar biasa yang dinamakan “Israk”
."...dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku telah didatangi Buraq. Yaitu seekor binatang yang berwarna putih, lebih besar dari keledai tetapi lebih kecil dari bighal. Ia merendahkan tubuhnya sehingga perut buraq tersebut mencapai ujungnya." Beliau bersabda lagi: "Maka aku segera menungganginya sehingga sampai ke Baitul Maqdis."
Sepanjang perjalanan (israk) itu Rasulullah S. A. W. diiringi (ditemani) oleh malaikat Jibrail dan Israfil. Tiba di tempat-tempat tertentu (tempat-tempat yang mulia dan bersejarah), Rasulullah telah diarah oleh Jibrail supaya berhenti dan bersembahyang sebanyak dua rakaat. Tempat-tempat itu adalah :
1. Negeri Thaibah (Madinah), tempat di mana Rasulullah akan melakukan hijrah. 

2. Bukit Tursina, iaitu tempat Nabi Musa A. S. menerima wahyu daripada Allah
3. Baitul-Laham (tempat Nabi ‘Isa A. S. dilahirkan)
Dalam perjalanan itu juga baginda Rasulullah S. A. W. menghadapi gangguan jin ‘Afrit dengan api jamung dan dapat menyasikan peristiwa-peristiwa simbolik yang amat ajaib. Antaranya :
- Kaum yang sedang bertanam dan terus menuai hasil tanaman mereka. apabila dituai, hasil (buah) yang baru keluar semula seolah-olah belum lagi dituai. Hal ini berlaku berulang-ulang. Rasulullah S. A. W. dibertahu oleh Jibrail : Itulah kaum yang berjihad “Fisabilillah” yang digandakan pahala kebajikan sebanyak 700 kali ganda bahkan sehingga gandaan yang lebih banyak.
- Tempat yang berbau harum. Rasulullah S. A. W. diberitahu oleh Jibrail : Itulah bau kubur Mayitah (tukang sisir rambut anak Fir’aun) bersama suaminya dan anak-anak-nya (termasuk bayi yang dapat bercakap untuk menguatkan iman ibunya) yang dibunuh oleh Fir’aun kerana tetapt teguh beriman kepada Allah (tak mahu mengakui Fir’aun sebagai Tuhan).
- Sekumpulan orang yang sedang memecahkan kepala mereka. Setiap kali dipecahkan, kepala mereka sembuh kembali, lalu dipecahkan pula. Demikian dilakukan berkali-kali. Jibrail memberitahu Rasulullah: Itulah orang-orang yang berat kepala mereka untuk sujud (sembahyang).
- Sekumpulan orang yang hanya menutup kemaluan mereka (qubul dan dubur) dengan secebis kain. Mereka dihalau seperti binatang ternakan. Mereka makan bara api dan batu dari neraka Jahannam. Kata Jibril : Itulah orang-orang yang tidak mengeluarkan zakat harta mereka.
- Satu kaum, lelaki dan perempuan, yang memakan daging mentah yang busuk sedangkan daging masak ada di sisi mereka. Kata Jibril: Itulah lelaki dan perempuan yang melakukan zina sedangkan lelaki dan perempuan itu masing-masing mempunyai isteri / suami.
- Lelaki yang berenang dalam sungai darah dan dilontarkan batu. Kata Jibril: Itulah orang yang makan riba`.
- Lelaki yang menghimpun seberkas kayu dan dia tak terdaya memikulnya, tapi ditambah lagi kayu yang lain. Kata Jibril: Itulah orang tak dapat menunaikan amanah tetapi masih menerima amanah yang lain.
- Satu kaum yang sedang menggunting lidah dan bibir mereka dengan penggunting besi berkali-kali. Setiap kali digunting, lidah dan bibir mereka kembali seperti biasa. Kata Jibril: Itulah orang yang membuat fitnah dan mengatakan sesuatu yang dia sendiri tidak melakukannya.
- Kaum yang mencakar muka dan dada mereka dengan kuku tembaga mereka. Kata Jibril: Itulah orang yang memakan daging manusia (mengumpat) dan menjatuhkan maruah (mencela, menghinakan) orang.
- Seekor lembu jantan yang besar keluar dari lubang yang sempit. Tak dapat dimasukinya semula lubang itu. Kata Jibril: Itulah orang yang bercakap besar (Takabbur). Kemudian menyesal, tapi sudah terlambat.
- Seorang perempuan dengan dulang yang penuh dengan pelbagai perhiasan. Rasulullah tidak memperdulikannya. Kata Jibril: Itulah dunia. Jika Rasulullah memberi perhatian kepadanya, nescaya umat Islam akan mengutamakan dunia daripada akhirat.
- Seorang perempuan tua duduk di tengah jalan dan menyuruh Rasulullah berhenti. Rasulullah S. A. W. tidak menghiraukannya. Kata Jibril: Itulah orang yang mensesiakan umurnya sampai ke tua.
- Seorang perempuan bongkok menahan Rasulullah untuk bertanyakan sesuatu. Kata Jibril: Itulah gambaran umur dunia yang sangat tua dan menanti saat hari kiamat.
Setibanya di masjid Al-Aqsa, Rasulullah turun dari Buraq. Kemudian masuk ke dalam masjid dan mengimamkan sembahyang dua rakaat dengan segala anbia` dan mursalin menjadi makmum.
Rasulullah S. A. W. terasa dahaga, lalu dibawa Jibrail dua bejana yang berisi arak dan susu. Rasulullah memilih susu lalu diminumnya. Kata Jibrail: Baginda membuat pilhan yang betul. Jika arak itu dipilih, nescaya ramai umat baginda akan menjadi sesat.
Didatangkan Mikraj (tangga) yang indah dari syurga. Rasulullah S. A. W. dan Jibrail naik ke atas tangga pertama lalu terangkat ke pintu langit dunia (pintu Hafzhah).
 Lalu Jibril membawaku naik ke langit. Ketika Jibril meminta agar dibukakan pintu, maka ditanyakan, 'Siapakah kamu? ' Jibril menjawab, 'Jibril'. Ditanyakan lagi, 'Siapa yang bersamamu? ' Jibril menjawab, 'Muhammad.' Jibril ditanya lagi, 'Apakah dia telah diutus? ' Jibril menjawab, 'Ya, dia telah diutus.' Maka dibukalah pintu untuk kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Adam, dia menyambutku serta mendoakanku dengan kebaikan. Lalu aku dibawa naik ke langit kedua. Jibril lalu minta supaya dibukakan pintu. Lalu ditanyakan lagi, 'Siapakah kamu? ' Jibril menjawab, 'Jibril'. Jibril ditanya lagi, 'Siapa yang bersamamu? ' Jibril menjawab, 'Muhammad.' Jibril ditanya lagi, 'Apakah dia telah diutuskan? ' Jibril menjawab, 'Ya, dia telah diutuskan'. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakaria, mereka berdua menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Aku dibawa lagi naik langit ketiga. Jibril pun meminta supaya dibukakan pintu. Lalu ditanyakan, 'Siapakah kamu? ' Jibril menjawab, 'Jibril'. Jibril ditanya lagi, 'Siapakah bersamamu? ' Jibril menjawab, 'Muhammad'. Jibril ditanya lagi, 'Apakah dia telah diutuskan? ' Jibril menjawab, 'Ya, dia telah diutuskan'. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Yusuf Alaihis Salam, ternyata dia telah dikaruniakan dengan kedudukan yang sangat tinggi. Dia terus menyambut aku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Aku dibawa lagi naik ke langit keempat. Jibril pun meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi, 'Siapakah kamu? ' Jibril menjawab, 'Jibril'. Jibril ditanya lagi, 'Siapakah bersamamu? ' Jibril menjawab, 'Muhammad'. Jibril ditanya lagi, 'Apakah dia telah diutuskan? ' Jibril menjawab, 'Ya, dia telah diutuskan'. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Idris Alaihis Salam, dia terus menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Allah berfirman: '(Dan kami telah menganggkat ke tempat yang tinggi darjatnya) '. Aku dibawa lagi naik ke langit kelima. Jibril lalu meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi, 'Siapakah kamu? ' Jibril menjawab, 'Jibril'. Jibril ditanya lagi, 'Siapakah bersamamu? ' Jibril menjawab, 'Muhammad'. Jibril ditanya lagi, 'Apakah dia telah diutuskan? ' Jibril menjawab, 'Ya, dia telah diutuskan'. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Harun Alaihissalam, dia terus menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Aku dibawa lagi naik ke langit keenam. Jibril lalu meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi, 'Siapakah kamu? ' Jibril menjawab, 'Jibril'. Jibril ditanya lagi, 'Siapakah bersamamu? ' Jibril menjawab, 'Muhammad'. Jibril ditanya lagi, 'Apakah dia telah diutuskan? ' Jibril menjawab, 'Ya, dia telah diutuskan'. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Musa, dia terus menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Aku dibawa lagi naik ke langit ketujuh. Jibril meminta supaya dibukakan. Kedengaran suara bertanya lagi, 'Siapakah kamu? ' Jibril menjawabnya, 'Jibril'. Jibril ditanya lagi, 'Siapakah bersamamu? ' Jibril menjawab, 'Muhammad'. Jibril ditanya lagi, 'Apakah dia telah diutuskan? ' Jibril menjawab, 'Ya, dia telah diutuskan'. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Ibrahim Alaihissalam, dia sedang berada dalam keadaan menyandar di Baitul Makmur. Keluasannya setiap hari bisa memasukkan tujuh puluh ribu malaikat. Setelah keluar, mereka tidak kembali lagi kepadanya (Baitul Makmur). Kemudian aku dibawa ke Sidratul Muntaha. Daun-daunnya besar seperti telinga gajah dan ternyata buahnya sebesar tempayan." Beliau bersabda: "Ketika beliau menaikinya dengan perintah Allah, maka sidrah muntaha berubah. Tidak seorang pun dari makhluk Allah yang mampu menggambarkan keindahannya karena indahnya. Lalu Allah memberikan wahyu kepada beliau dengan mewajibkan shalat lima puluh waktu sehari semalam. Lalu aku turun dan bertemu Nabi Musa Alaihissalam, dia bertanya, 'Apakah yang telah difardukan oleh Tuhanmu kepada umatmu? ' Beliau bersabda: "Shalat lima puluh waktu'. Nabi Musa berkata, 'Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan karena umatmu tidak akan mampu melaksanakannya. Aku pernah mencoba Bani Israel dan menguji mereka'. Beliau bersabda: "Aku kembali kepada Tuhan seraya berkata, 'Wahai Tuhanku, berilah keringanan kepada umatku'. Lalu Allah subhanahu wata'ala. mengurangkan lima waktu shalat dari beliau'. Lalu aku kembali kepada Nabi Musa dan berkata, 'Allah telah mengurangkan lima waktu shalat dariku'. Nabi Musa berkata, 'Umatmu tidak akan mampu melaksanakannya. Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan lagi'. Beliau bersabda: "Aku masih saja bolak-balik antara Tuhanku dan Nabi Musa, sehingga Allah berfirman: 'Wahai Muhammad! Sesungguhnya aku fardukan lima waktu sehari semalam. Setiap shalat fardu dilipatgandakan dengan sepuluh kali lipat. Maka itulah lima puluh shalat fardu. Begitu juga barangsiapa yang berniat, untuk melakukan kebaikan tetapi tidak melakukanya, niscaya akan dicatat baginya satu kebaikan. Jika dia melaksanakannya, maka dicatat sepuluh kebaikan baginya. Sebaliknya barangsiapa yang berniat ingin melakukan kejahatan, tetapi tidak melakukannya, niscaya tidak dicatat baginya sesuatu pun. Lalu jika dia mengerjakannya, maka dicatat sebagai satu kejahatan baginya'. Aku turun hingga sampai kepada Nabi Musa, lalu aku memberitahu kepadanya. Dia masih saja berkata, 'Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan'. Aku menjawab, 'Aku terlalu banyak berulang-ulang kembali kepada Tuhanku, sehingga menyebabkanku malu kepada-Nya'."
Rasulullah S. A. W. turun ke langit dunia semula. Seterusnya turun ke Baitul-Maqdis. Lalu menunggang Buraq perjalanan pulang ke Mekah pada malam yang sama. Dalam perjalanan ini baginda bertemu dengan beberapa peristiwa yang kemudiannya menjadi saksi (bukti) peristiwa Israk dan Mikraj yang amat ajaib itu (Daripada satu riwayat peristiwa itu berlaku pada malam Isnin, 27 Rejab, kira-kira 18 bulan sebelum hijrah). Wallahu’alam.